R FAHMI PRIANDRI


@rfahmip

Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL)

Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL)

 

Bahaya adalah sumber risiko, tetapi bukan risiko itu sendiri. Bahaya lingkungan adalah segala zat, organisme atau energi yang mempunyai kapasitas atau potensi menimbulkan cedera, sakit atau mati. Cedera, sakit atau mati tidak akan terjadi akibat bahaya lingkungan, kecuali kondisi-kondisi tertentu yang spesifik. Bahaya lingkungan terdiri dari:

  • Zat kimia toksik
  • Energi radiasi dan gelombang elektromagnetik
  • Organisme patogen
  • Perilaku hidup tidak sehat dan tidak bersih
  • Faktor-faktor non fisik lingkungan (sosial)

Untuk itu diperlukan adanya analisis mengenai risiko dari bahaya lingkungan tersebut. Analsisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) adalah salah satu alat pengelolaan risiko yang digunakan oleh  Risk Manager untuk melindungi kesehatan masyarakat. Definisi ARKL oleh beberapa sumber antara lain adalah :

  • Karakterisasi efek-efek pajanan bahaya lingkungan yang  berpotensi merugikan kesehatan manusia (NRC, 1983).
  • Proses penilaian bersama ilmuwan dan birokrat untuk memprakirakan peningkatan risiko gangguan kesehatan pada manusia yang terpajan olehzat-zat toksik (EPA, 1991).
  • Evaluasi ilmiah dampak kesehatan potensial yang dapat terjadi karena pajanan zat tertentu atau campurannya pada kondisi spesifik (US-EPA 1998).
  • Kerangka ilmiah untuk memecahkan permasalahan lingkungan dan kesehatan (Louvar&Louvar1998).
  • Proses memprakirakan risiko pada suatu organisme, sistem atau (sub) populasi sasaran, dengan segala ketidak pastian yang menyertainya, setelah terpajan oleh agen tertentu, dengan memerhatikan karakteristik agen dan sasaran yang spesifik (IPCS 2004).

Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia ARKL merupakan pendekatan ADKL. Landasan hukum ARKL untuk ADKL antara  lain yaitu PerMenLHNo 08/2006 tentang Pedoman Penyusunan Amdal, dan KepMenKesNo 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis ADKL.

Kajian analisis risiko lingkungan adalah bersifat prediktif (kilas depan), berdasarkan dosis-respon, dapat diekstrapolasi ke populasi lain, dan merupakan basis ilmiah untuk manajemen dan komunikasi risiko.

Analisisi Risiko Kesehatan Lingkungan memiliki karakteristik antara lain yaitu

  • Pajanan risk agent dinyatakan sebagai asupan (intake),
  • Dibutuhkan konsentrasi risk agent, antropometri dan pola aktivitas,
  • Pembedaan risiko karsinogenik dan non-karsinogenik,
  • Tidak menguji hubungan / pengaruh lingkungan terhadap kesehatan,
  • Besaran risiko tidak berarti directly proportional,
  • Kuantitas risiko digunakan untuk manajemen dan komunikasi risiko.

Cikal bakal ARKL lahir pada tahun 1969 dalam “Swedish Environmental Act” dengan konsep reversed burden of proof atas aktivitas yang membahayakan lingkungan. Inti dari reversed burden of proof adalah bahwa industri harus menunjukkan keamanan produknya kepada regulator, bukan regulator yang harus membuktikan bahayanya.

ARKL dikembangkan dari Risk Analysis Paradigm (NRC, 1983),  dimana Risk Analysis mengkaji efek kesehatan bahaya fisik, kimiawi dan biologis lingkungan. Kajian efek kesehatan disebut health risk assessment (HRA) sedangkan kajian efek lingkungan disebut ecological risk assessment (ERA). HRA dipakai untuk menilai dan atau menaksir risiko kegiatan yang telah, sedang dan akan terjadi. Dan kini HRA berkembang menjadi environmental health risk assessment (EHRA) atau disebut ARKL.

Hasil studi ARKL berupa  :

  • Estimasi risiko kuantitatif.
  • Dosis atau konsentrasi risk agent dan pola aktivitas populasi terpajan yang aman dan tidak aman.
  • Zona aman dan tidak aman menurut risk agent, tingkat risiko, dan populasi terpajan.
  • Pilihan-pilihan pengelolaan risiko menurut berbagai skenario faktor pemajanan.
  • Surveilans dan model monitoring kesehatan lingkungan.
  • Rumusan baku mutu kesehatan lingkungan.
  • Rumusan komunikasi risiko dengan promosi perilaku hidup sehat dan pengendalian faktor-faktor risiko lingkungan fisik dan sosial.

Analisis Risiko  adalah sebuah usaha untuk menganalisis berapa besar kemungkinan risiko yang akan terjadi pada suatu kegiatan manusia, sedangkan usaha yang dilakukan untuk mengurangi risiko sering disebut sebagai manajemen risiko. Analisis risiko dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Langkah kualitatif ditandai dengan analisis tentang penyebab kejadian dari awal hingga terjadinya suatu kecelakaan, Analisis kualitatif dilakukan dengan menggolongkan tingkat resiko berdasarkan hirarki probabilitas risiko dan tingkat risiko akibat dampak. Sedangkan langkah kuantitatif dilakukan dengan menghitung kemungkinan terjadinya suatu risiko, dalam analisa kuantitatif digunakan angka dan perhitungan matematis dalam menentukan tingkat risiko. Data dapat diperoleh dari database, pengalaman sebelumnya, eksperimen, literature, dan pemodelan.

Teknik dasar dalam melakukan analisis risiko kesehatan lingkungan yaitu :

  • Karakterisasi risiko

Dalam karakterisasi risiko, dibedakan antara risiko kanker dan non-kanker. Risiko non-karsinogenik dinyatakan sebagai Risk Qoutient (RQ), dapat dihitung dengan membagi asupan (Ink) dengan dosis referensi (RfD). Sedangkan untuk risiko karsinogenik dinyatakan sebagai Excess Cancer Risk (ECR), dihitung dengan mengalikan asupan (Ik) dengan CSF (Cancer Slope Factor).

  • Analisis dosis-respon

Sebuah tindakan untuk menetapkan kuantitas toksisitas risk agent untuk setiap spesi kimianya. Toksisitas dinyatakan sebagai dosis referensi (RfD) untuk efek non-karsinogenik. Sedangkan untuk efek karsinogenik toksisitas dinyatakan sebagai CSF (Cancer Slope Factor).

  • Analisis pajanan

Analisis pajanan digunakan untuk mengenali jalur-jalur pajanan risk agent (inhalasi, ingesi,dan absorbsi), untuk mengenali karakteristik antropometri dan pola aktivitas segmen-segmen populasi berisiko, dan untuk menghitung asupan (intake) risk agent yang diterima setiap segmen populasi berisiko.

Salah satu contoh analisis risiko adalah analisis risiko pemukiman. Dalam analisis risiko pemukiman, hal yang umum dianalisa adalah lokasi, kualitas udara, kebisingan dan getaran, kualitas tanah daerah pemukiman, prasarana dan sarana, serta penghijauan. Analisis risiko pemukiman dapat dilakukan berdasarkan persyaratan kesehatan lingkungan pemukiman. Persyaratan kesehatan lingkungan pemukiman adalah ketentuan teknis yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni atau masyarakat yang bermukim dan atau masyarakat sekitar dari bahaya dan ganguan kesehatan.


1. Fie

pada : 13 January 2013

"Kuliahnya Pak Darmaji ya dek? :)"


2. Rahmadi Fahmi

pada : 17 January 2013

"@Fie : iya mbak benar sekali hehe"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :