R FAHMI PRIANDRI


@rfahmip

Pelayanan VCT (Voluntary Counseling and Testing)

            Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Indonesia sampai 30 Maret 2011 telah mencapai 24.482 kasus dan sudah tersebar di 32 provinsi (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011). Masalah infeksi HIV ini terus meningkat berkaitan dengan perilaku seks tidak aman dan penggunaan NAPZA suntik.

            Jawa Timur merupakan daerah dengan kasus HIV/AIDS yang tinggi di Indonesia. Setiap tahun jumlah pengidap penyakit ini terus mengalami peningkatan. Pada triwulan III 2006 terdapat 820 kasus dan dua tahun berikutnya meningkat menjadi 2.525 kasus. Jumlah penderita HIV/AIDS di Surabaya juga terus bertambah. Bahkan hingga 2012, jumlah penderita HIV/AIDS diprediksi terus naik. Data Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyebutkan, sejak 2004 hingga Juni 2009 jumlah kasus HIV/AIDS yang berhasil ditemukan sebanyak 3.278 orang.

            Persebaran HIV dan AIDS utamanya cukup tinggi pada daerah-daerah prostitusi yang sangat rawan terhadap perilaku seks yang tidak sehat. Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyatakan bahwa tempat-tempat dianggap rawan terhadap penyebaran HIV dan AIDS diantaranya yakni Benowo, Dupak, Perak, Pakis, dan masih banyak lagi.  Persebaran HIV/AIDS di kompleks lokalisasi Dolly – Jarak tahun lalu cukup mencengangkan. Pada 2011, tercatat ada 99 kasus HIV / AIDS di lokalisasi tersebut. Fakta itu seharusnya menjadi peringatan bagi para pelaku prostitusi di kawasan tersebut. Kepala Puskesmas Putat Jaya dr Hartati menyatakan, jumlah kasus HIV/ AIDS di kompleks Dolly – Jarak pada 2011 memang meningkat bila di bandingkan dengan tahun 2010. Tahun sebelumnya, jumlah HIV/AIDS di sana ada 68 kasus.

            Kasus HIV dan AIDS yang tinggi bukan hanya terdapat di Jawa Timur, di Medan, Sumatera Utara dari bulan Januari hingga Februari terdapat 2.893 orang yang masih melakukan perawatan HIV/AIDS di Sumut, di antaranya adalah 2.192 pria dewasa, 595 wanita dewasa dan 52 orang anak-anak. Namun bulan Februari hingga Maret ditemukan kasus baru sebesar 113 orang yang menderita HIV atau mencapai total keseluruhan 2.970 orang. Dari jumlah tersebut 2.275 diantaranya adalah laki-laki dan 643 wanita, sedangkan 52  anak-anak yang berumur di bawah usia 14 tahun. Yang sangat mengkhawatirkan adalah pada rentang waktu satu bulan, terdapat 113 penderita baru HIV/AIDS.

            Persoalan HIV dan AIDS tidak saja persoalan kesehatan, tetapi juga menyakup semua aspek kehidupan. Untuk itu, penyebarluasan informasi tersebut harus dari berbagai sisi kepada seluruh eleman masyarakat. Hal ini dikarenakan bahwa persoalan HIV dan AIDS memiliki dampak besar bagi para penderitanya, keluarganya, dan masyarakat. Pencegahan penyebaran infeksi dapat diupayakan melalui peningkatan akses perawatan dan dukungan pada penderita dan keluarganya. Voluntary Conseling and Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya tersebut.

            Untuk menekan dan melakukan tindakan pencegahan terhadap persebaran kasus HIV/AIDS diperlukan berbagai upaya sinergis dan kontinu agar diperoleh hasil yang maksimal dan menghasilkan deteksi dini penyakit serta pengobatan yang tepat (early diagnosis and prompt treatment – 5 level of prevention) yang dikemukakan oleh Leavell dan Clark sehingga tingkat HIV belum sampai tingkat lanjut atau menjadi AIDS.

            1. Apakah VCT itu ?

            2. Mengapa perlu adanya VCT ?

            3. Siapakah yang dapat memanfaatkan VCT ?

            4. Dimanakah pelayanan VCT tersebut?

            5. Bagaimanakah pelayanan VCT dilakukan?

            6. Kapan pelayanan VCT bisa didapatkan?

            7. Apa saja permasalahan terkait dengan VCT?

I. Apakah VCT itu?

Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk menangani penyebaran HIV/AIDS (Depkes RI, 2006). VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental (rahasia) dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV. Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang HIV dan manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang akan dihadapi. Konseling post testing membantu seseorang untuk mengerti & menerima status (HIV+) dan merujuk pada layanan dukungan. Voluntary Counseling Test (VCT)  merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV.

Ada dua keuntungan penting bila seseorang mengetahui status HIV. Pertama, bila terinfeksi HIV, orang tersebut dapat mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu sebelum gejala muncul, yang secara potensial dapat memperpanjang hidupnya selama beberapa tahun. Juga dapat mengambil segala kewaspadaan yang dipandang perlu untuk mencegah penyebaran HIV kepada orang lain. Kedua, bila diketahui tidak terinfeksi maka dapat melakukan tindakan hidup sehat untuk menghindari resiko tertular HIV.

Jadi secara singkat VCT adalah  tes dan pemeriksaan sukarela dari kemungkinan terkena infeksi menular seksual (IMS) atau HIV/AIDS yang diberikan rumah sakit (RS) dan puskesmas dilakukan oleh seorang konselor VCT yang terlatih, yang dilakukan sebelum dan sesudah test darah untuk HIV di laboratorium.

II. Mengapa perlu adanya VCT ?

Tujuan utama VCT adalah untuk mendorong orang yang sehat, asimtomatik untuk mengetahui status HIV, sehingga mereka yang dapat mengurangi tingkat penularannya. VCT dapat menurunkan perilaku beresiko, terutama pada mereka yang telah dites dan dapat membantu beberapa program preventif di masyarakat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan VCT dapat merubah perilaku beresiko dalam beberapa kelompok rentan terhadap HIV di masyarakat (Sangiwa G. Et al., 1998).

VCT perlu dilakukan karena merupakan pintu masuk untuk menuju ke seluruh layanan HIV/AIDS, dapat memberikan keuntungan bagi klien dengan hasil tes positif maupun negatif dengan fokus pemberian dukungan terapi ARV (Anti Retroviral), dapat membantu mengurangi stigma di masyarakat, serta dapat memudahkan akses ke berbagai layanan kesehatan maupun layanan psikososial yang dibutuhkan klien (Murtiastutik, 2008).  

III. Siapakah yang dapat memanfaatkan VCT ?

VCT terbuka untuk siapa saja, yang secara sukarela tanpa paksaan ingin memeriksakan dirinya terhadap status kesehatannya. Baik untuk orang yang sehat tanpa gejala HIV (asimtomatik) maupun untuk orang dengan tada-tanda HIV. Seluruhnya bebas melakukan VCT dengan keinginan dan kemauannya sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.

Namun VCT terutama disarankan untuk dilakukan oleh orang-orang dengan resiko tinggi terhadap penularan virus HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dalam Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) Penanggulangan HIV/AIDS tahun 2010-2014 telah menetapkan 720 orang per tahun dalam setiap layanan VCT. Kelompok masyarakat dengan resiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS antara lain adalah kelompok dengan perilaku seks tidak sehat seperti pekerja seks komersil (PSK), para pelanggan PSK yaitu pria yang sering mengunjungi lokalisasi, para pelaku homoseksual dan lesbian, orang yang pernah menerima transfusi darah, pengguna narkoba suntik, orang yang pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS), kelompok waria, IDU, gay dan lain-lain. (Depkes RI, 2004).

Pada dasarnya VCT dapat dilakukan oleh siapa saja yang berkemauan untuk melakukan tes VCT tersebut dengan datang ke pusat pelayanan kesehatan.

IV. Dimanakah pelayanan VCT tersebut?

Pelayanan VCT dapat diperoleh di pusat-pusat kesehatan seperti klinik, puskesmas dan juga rumah sakit. Di Surabaya setidaknya telah terdapat 14 tempat yang melayani VCT, yaitu adalah :

- RSU dr Soetomo                             

- RS Bhayangkara

- RS Dr Soewandi                              

- RSAL Dr. Ramelan

- RS Karang Tembok                         

- RS Jiwa Menur

- Puskesmas Putat Jaya                      

- Puskesmas Perak Timur

- Puskesmas Sememi                        

- Puskesmas Dupak

- Puskesmas Krembangan                  

- Puskesmas Jagir

- Klinik Hotline                                  

- Kantor Kesehatan Pelabuhan

V. Bagaimanakah pelayanan VCT dilakukan?

Tes HIV harus bersifat sukarela yang memiliki arti bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan/tekanan orang lain. Ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk dites setelah mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari testing, serta apa saja implikasi dari hasil positif atau pun hasil negatif.

Selanjutnya bersifat rahasia yang memiliki arti bahwa terkait hasil tes ini, baik positif maupun negatif, hasilnya hanya boleh di beritahu langsung kepada orang yang bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan kepada siapa pun, baik orang tua, pasangan, atasan dan lain sebagainya. Di samping itu hasil tes HIV juga harus dijamin kerahasiaannya oleh pihak yang melakukan tes itu (dokter, rumah sakit, atau laboratorium) dan tidak boleh disebarluaskan.

Mengingat begitu pentingnya untuk memperhatikan Hak Asasi Manusia di dalam masalah tes HIV ini, maka untuk orang yang akan melakukan tes disediakan jasa konseling yang dilakukan oleh konselor VCT yang telah terlatih serta bersertifikat sesuai dengan standart WHO yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan.

Konseling HIV/AIDS adalah dialog yang terjaga kerahasiaan antara konselor dan klien. Konseling membantu orang mengetahui statusnya lebih dini, menekankan kepada aspek perubahan perilaku, peningkatan kemampuan menghadapi stress, ketrampilan pemecahan masalah. Konseling HIV juga menekankan pada issue HIV terkait seperti bagaimana hidup dengan HIV, Pencegahan HIV ke pasangan, dan issue-issue HIV yang berkelanjutan.

Konseling bukanlah memberitahu atau mengarahkan, menasehati, membuat gosip, melaksanakan interogasi, membuat pengakuan, serta mendoakan. Untuk itu diperlukan elemen penting dalam VCT yaitu tersedianya waktu, penerimaan klien dan berorientasi kepada klien serta mudah di jangkau (accessibility), dan confidentiality (rasa nyaman).

Konseling pre-test yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani tes itu diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui risiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil tes. Konseling pre-test juga bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila hasilnya nanti positif. Adapun tahapan konselingnya adalah sebagai berikut:

-    Alasan Test

-    Pengetahuan tentang HIV dan manfaat testing

-    Perbaikan kesalahpahaman tentang HIV dan AIDS

-    Penilaian resiko pribadi terhadap penularan HIV

-    Informasi tentang test HIV

-    Diskusi tentang kemungkinan hasil yang keluar

-    Kapasitas menghadapi hasil / dampak hasil

- Kebutuhan dan dukungan potensial - rencana pengurangan resiko pribadi

-     Pemahaman tentang pentingnya test ulang

-     Pengambilan keputusan setelah diberi informasi

-     Membuat rencana tindak lanjut

-     Memfasilitasi dan penandatanganan Informed Consent

Kemudian, pasien dapat melakukan test HIV atau pengambilan darah oleh perawat untuk di test pada laboratorium yang tersedia dalam melakukan test HIV. Selanjutnya, setelah hasil di dapatkan, maka konselor akan melakukan konseling post-test yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif maupun negatif. Konseling post-test sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengetahui cara menghindari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Bagi mereka yang hasilnya HIV negatif, konseling post-test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang. Adapun tahapan konselingnya adalah sebagai berikut:

-           Dokter dan Konselor mengetahui hasil untuk membantu diagnosa dan dukungan lebih lanjut. Hasil diberikan dalam amplop tertutup,

-           Hasil disampaikan dengan jelas dan sederhana,

-           Beri waktu untuk bereaksi,

-           Cek pemahaman hasil test,

-           Diskusi makna hasil test,

-           Konseling disclosesure: dampak pribadi , keluarga , sosial terhadap   Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) , kepada siapa dan bagaimana memberitahu,

-           Rencana pribadi penurunan resiko,

-           Menangani reaksi emosional,

-           Tindak lanjut perawatan dan dukungan ke layanan manajemen kasus atau layanan dukungan yang tersedia.

Sedangkan untuk alur dari test VCT adalah :

1.         Petugas lapangan memberikan informasi kepada komunitas Penasun dan masyarakat.

2.         Klien datang sendiri atau dirujuk oleh petugas lapangan / relawan ke bagian konselor VCT.

3.         Klien melakukan konseling pre-test.

4.         Bila klien setuju untuk tes HIV, sebelumnya harus menadatangani Inform Consent atau lembar kesediaan.

5.         Dilakukan pengambilan darah oleh perawat, lalu darah dikirim ke laboratorium rujukan dan atau tersedia pada waktu-waktu tertentu perawat hadir di Drop-in Center berikut peralatan laboratorium (one day service – mobile klinik VCT dengan kerjasama Puskemas/RS).

6.         Setelah hasil test HIV keluar, klien kembali datang untuk melakukan konseling post-test sesuai perjanjian.

7.         Bila hasil non-reaktif, konselor menjelaskan agar klien melakukan test ulang kembali dan melakukan konseling pengurangan resiko.

8.         Bila hasil Reaktif selanjutnya:

-           Bila klien setuju, dirujuk ke layanan manajemen kasus HIV dan  AIDS.

-           Bila klien tidak setuju, tetap disarankan dan di rujuk ke layanan medis lanjutan.

-           Bila Klien sakit berat langsung dirujuk ke rumah sakit.

Dan yang disebut sebagai konselor VCT adalah :

-           Full time counselor yang berlatar belakang psikologi dan ilmuwan psikologi (psychiatrists, family therapist, psikologi terapan) yang sudah mengikuti pelatihan VCT dengan standart WHO.

-           Profesional dari kalangan perawat, pekerja sosial, dan dokter.

-           Community-based dan PLWHA yang sudah terlatih (Peer).

Yang terbagi atas :

1.         Konselor Dasar (Lay Counselor),

Berangkat dari kebutuhan sebaya.

Dekat dengan komunitas.

Lebih mempromosikan VCT dan konseling dukungan.

2.         Konselor Profesional (Profesional Counselor),

Pre dan post konseling.

Issue Psikososial.

3.         Konselor Senior/pelatih (Senior Counselor),

Memberikan dukungan untuk konselor dan petugas managemen kasus.

Mendampingi, supervisi dan memberikan bantuan teknis kepada konselor.

Untuk konselor VCT biasanya terikat sumpah untuk merahasiakan status si klien. Jadi klien tidak perlu khawatir untuk menceritakan semua yang pernah anda lakukan. Apalagi pada saat melakukan VCT, tempatnya tidak terbuka dan tertutup sehingga privasi klien akan tetap terjamin. Karena hasil tes HIV adalah rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh konselor dan klien saja. Klien dapat menuntut apabila ternyata hasil HIV bocor ke orang lain yang tidak berwenang. Kalaupun klien dirujuk dan artinya informasi tentang status HIV klien harus diberitahukan ke orang lain, harus dengan persetujuan klien. Dan proses VCT yang benar memegang teguh privasi dan juga memastikan kalau klien melakukan VCT dengan sukarela.

VI. Kapan pelayanan VCT bisa didapatkan?

Konseling dan tes VCT dapat dilakukan kapan saja di pusat layanan kesehatan yang menyediakan fasilitas VCT. Biasanya konseling akan dilakukan setelah ada perjanjian dari pihak klien maupun konselor. Begitu juga untuk tes diperlukan persetujuan dari klien juga.

Untuk klien yang telah melakukan tes VCT namun menandakan hasil negatif, perlu melakukan tes kembali karena dikhawatirkan pasien berada dalam periode jendela, yaitu periode di mana orang yang bersangkutan sudah tertular HIV tapi antibodinya belum membentuk sistem kekebalan terhadap HIV dan hasil tes HIVnya masih negatif, meski belum terdeteksi tapi sudah bisa menularkan. Maka pasien akan dianjurkan untuk melakukan tes kembali tiga bulan setelahnya.

VII. Apa saja permasalahan terkait dengan VCT?

Karena VCT dilakukan dengan prinsip sukarela maka VCT tidak dapat dipaksakan oleh dan kepada siapapun. Pada banyak kasus sangat banyak kelompok beresiko yang tidak ingin memeriksakan diri. Hal ini dikarenakan adanya rasa malu, rasa enggan, rasa takut terhadap kerahasiaan identitas dan hasil, tidak adanya waktu yang dimiliki oleh pasien, kurangnya sosialisasi dari Dinas terkait serta kurangnya kesadaran dan kepedulian dari kelompok dengan resiko tinggi.

Salah satu masalah antara lain terdapat pada Puskesmas yang dekat dengan lokalisasi di Surabaya yaitu Puskesma Putat Jaya. Pada banyak kasus di Puskesmas Putat Jaya, PSK yang berkemauan untuk memeriksakan diri masih sangat rendah. Dan Puskesmas selama ini hanya menangani kasus IMS (infeksi menular seksual) dan baru diketahui bahwa yang bersangkutan mengidap HIV/AIDS. Hal ini dimungkinkan karena stigma masyarakat yang masih buruk terhadap ODHA yaitu mereka menilai ODHA adalah kaum yang hina dan buruk. Padahal infeksi HIV beresiko terhadap siapa saja karena dapat tertular dari pasangan suami istri, pasangan muda mudi yang melakukan seks bebas, dari ibu kepada anaknya dan lain sebagainya.

Selain itu di beberapa daerah juga terdapat masalah seperti jauhnya pusat pelayanan kesehatan yang menyediakan fasilitas VCT sehingga sulit dijangkau serta kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pusat pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas VCT.  Dan yang paling banyak dijumpai adalah masyarakat merasa sehat, tidak mengalami gejala (asimtomatik) sehingga timbul keengganan untuk melakukan VCT.

Dari berbagai sumber. 


1. elli

pada : 17 February 2013

"Jadi ini Peringatan Bagi hidung belang/yg hobbi jajan di GANG DOLLY ya?"


2. Rahmadi Fahmi

pada : 01 April 2013

"@elli: Ehm, iya bisa dibilang begitu mbak."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :